Saya
tinggal di daerah pedalaman yang lingkungannya itu masih tergolong kental
dengan budayanya. Jika berbicara tentang budaya, maka masyarakatnya sangat
sensitif dengan hal itu. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi jika melanggar
aturan-aturan berdasarkan nilai-nilai budaya yang ada. Namun ada satu kebiasaan
di desa saya yang akan saya jelaskan yaitu “Peringatan Hari Kematian Keluarga”.
Masyarakat
di desa saya biasanya menyebutnya dengan istilah metangdase, nyatus, dan nyiu. Istilah ini diberikan berdasarkan
sudah berapa hari si mayat meninggal dunia, dihitung mulai dari malam pertama
mayat tersebut masuk ke dalam kubur. Dimana metangdase
sama dengan 40 hari meninggal dunia, nyatus
sama dengan 100 hari, dan nyiu sama
dengan 1.000 hari. Cara hitungnya sedikit berbeda bukan berdasarkan waktu pagi,
tetapi berdasarkan waktu malam. Cara memperingatinya yaitu dengan zikiran.
Zikiran itu cukup diadakan sehari semalam, dilanjutkan dengan pada waktu subuh
ziarah kubur. Pelaksanaannya tidak boleh terlalu cepat atau terlambat, karena
jika tidak tepat atau sesuai harinya, masyarakat disana berpendapat bahwa akan
ada hal buruk yang akan menimpa keluarga si mayat di hari-hari berikutnya
sampai hari nyatus atau nyiu itu tiba.
Oleh
karena hal itu, timbul beberapa pendapat atau kontoversi terkait budaya ini,
diantaranya:
ü Dikalangan
pemuda, khususnya bagi yang telah mengemban pendidikan di pondok pesantren.
Banyak yang beranggapan bahwa apa yang dilakukan dan diyakini itu tak lain
hanya keliru saja dan takutnya mengarah ke syirik, sebab mempercayakan nasib
pada hal-hal yang seperti itu.
ü Tak
jarang juga dari mereka beranggapan bahwa peringatan seperti itu berlebihan,
karena bayangkan jika keluarga si mayat tidak mempunyai uang untuk zikiran maka mereka harus meminjam dari orang
lain, nah hal inilah yang mereka sebut sebagai berlebihan mengapa tidak peringatan
itu dilakukan cukup dengan yasinan saja atau alfateha saja.
ü Ada
sebagian dari masyarakat disana juga tidak menyetujui adanya peringatan tersebut
dengan alasan peringatan itu tidak mempunyai dasar filosofi yang jelas.
Menurut
saya pribadi, peringatan tersebut akan bernilai baik jika kita membuka pikiran
kita dan memandangnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Peringatan ini
sebenarnya bertujuan untuk mengenang si mayat dan mendoakannya sekaligus
mengingatkan bahwa kita akan mati juga. Sebab sifat manusia adalah cepat lupa
jadi harus sering-sering diingatkan agar tidak serakah terhadap kehidupan
dunia.
Diadakannya
zikiran tak lain hanya sebagai sedekah oleh keluarga si mayat kepada orang
lain, dengan harapan bahwa perbuatan ibadah itu akan dapat menjadi penerang di
alam kubur bagi mayat tersebut. Mengapa saya mengatakan sedekah, karena orang-orang
yang datang ke rumah keluarga si mayat tidak diwajibkan membawa apapun untuk
keluarga. Dengan hadirnya mereka saja keluarga mayat tersebut sudah bersyukur
berarti banyak orang yang akan mendoakan keluarganya yang telah meninggal.
Mengenai
hal yang berlebihan sebenarnya jika kita melihat bahwa peringatan ini bias di
kemas menjadi sangat sederhana, bahkan bias di adakan di masjid setelah
orang-orang selesai shalat Isya berjamaah. Cukup dengan memberikan air gelas
dan nasi bungkus. Jadi itu tergantung bagaimana kita dan kemampuan yang kita
miliki.
semoga apa yang di share bermanfaat mbak yuuu :)
BalasHapusaamiin... Terima kasih :) :)
Hapusbagus. bermanfaat.
BalasHapusartikel yang bermanfaat.
BalasHapusArtikel yang bagus, akan tetapi masih banyak yang harus diperbaiki dari segi penulisan, kerapian, dan diksinya. sukses selalu!
BalasHapusTerima kasih atas koreksi dan sarannya :)
Hapustetep kunjungi halaman yang lain ya....
Keren👍👍
BalasHapusTerimakasih unt ilmunya😊😊
terima kasih..
HapusSangat menarik, terima kasih.. ditunggu postingan berikutnya.. 😊
BalasHapusterima kasih saudariku..
Hapusmenarik mabk yul..
BalasHapusTapi ada sedikit pertanyaan yang mengganjal..
Adakah makanan yang wajib ada dalam pelaksanaan ritual atau adat roah ini?
Terkait makanan tidak terlalu dikhususkan
Hapustergantung si penyelenggara, hanya saja kalo mampu minimal ada yang disembelih (daging)
Tradisi yang sungguh menarik, apanp bentuk upaya kita dalam melestarikannya, lakukan yang terbaik agar generasi yang akan datangbjuga menikmati dampak positifnya.
BalasHapusbetul banget! double jempol dah...
Hapusmantabs Yuli
BalasHapusterima kasih..
Hapusoow berarti berbeda daerah, beda juga caranya. kalok di daerah saya gk ada nyiu, yang ada itu nelung, mituq, nyiwaq, sama nyatus.
BalasHapusiya kak, itulah budaya sasak. beda daerah beda tradisi
Hapuswah, kalau di daerah sekitar saya yang ada hanya nyiwak, metangdase, sama nyatus saja. tidak ada nyiunya.
BalasHapusterima kasih informasinya, mbak yul. :)
walaupun berbeda kita tetap satu suku kok, teman
Hapussuku sasak :)
Menarik ,,lestarikan budaya sasak dgn menulis!!!
BalasHapusoke, terima kasih...
HapusMohon Maaf sebelumnya... Saya kurang sependapat dengan penulis mengenai sudut pandang yg mengatakan bahwa, acara roah ini adalah sesuatu yg baik jika dilihat dari segi yg berbeda.. ��, karena ini adalah hal yg menyangkut kedalam agama,, Apapupun bentuk Amalan kita selama itu tidak ada tuntunan dari Nabi SAW, maka amalan kita akan tertolak,, walaupun hal tersebut baik di pandangan manusia... Mungkin lebih lengkapnya nanti bisa kita di diskusikan mbak Yul di acara reuni dgn teman - teman yg lain..
BalasHapusNggih,, mudahan"an dipermudah untuk reuni lagi
Hapusterima kasih sudah menyempatkan berkunjung
jangan lupa kunjungi lagi halaman yang lain ya...
Pelaksanaan tradisi tersebut tidak boleh terlalu cepat atau terlambat, karena jika tidak tepat atau sesuai harinya, masyarakat di sana berpendapat bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpa keluarga si mayat di hari-hari berikutnya sampai hari nyatus atau nyiu itu tiba.
BalasHapusApakah hal tersebut benar adanya? Apa filosofinya?
terkait benar adanya saya kurang tahu karena saya belum menemukan keterlambatan dan kecepatan pelaksanaan kegiatan tersebut.
Hapusjadi PR sy untuk menggali lebih dalam lagi
Artikelnya cukup bagus, karena apa yang di sajikan di artikelnya sangat rill seperti apa yang terjadi di masyarakat saat ini
BalasHapusGood... Thanks atas ilmunya dek, semoga kedepannyan lebih baik lagi..����
aamiin... terima kasih kak..
HapusKeren
BalasHapusterima kasih, kak..
HapusYaa bisa juga kan, di anggap sebagai balas budi yg telah almarhum tersebut lakukan kepada sesama. Kan kita sesama manusia harus saling bermanfaat bagi orang lain, bukan di manfaat kan. Hahaha
BalasHapussetuju!
Hapusterima kasih sudah berkunjung...
Brilliant!.
BalasHapusWell, karena saya menekuni bidang Kebahasaan, saya hanya akan mengomentari dari sisi kebahasaannya saja
Deskripsinya sudah bagus dan mumpuni, hanya saja sepertinya perlu dilihat lagi dan direvisi beberapa kata atau kalimat didalamnya serta gaya bahasanya akan lebih baik disesuaikan dengan genre yg dibuat... Karena ini artikel yg berupa deskripsi, akan lebih baik jika memang bentuknya formal, maka bahasa selanjutnya juga formal, dan sebaliknya. Jangan sampai ada satu kalimat yg formal tetapi kalimat yg lain informal...
@menurut saya, Perlu ada revisi di beberapa kalimat
Namun secara umumnya sudah bagus baik dari penggambaran dan yang lainnya
Nggih... Terima kasih sarannya kak..
Hapussangat bermanfaat untuk tulisan saya selanjutnya :)
Terima kasih atas tambahan ilmu nya😉
BalasHapusterima kasih kembali..
Hapusdibaca dari judulnya saja sudah serem banget.. tapi informasinya bermanfaat sangat,, kereen abiss...
BalasHapushe he.. terima kasih..
Hapusbiar kita semua ingat bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian.
Informasi yang menarik. Terimakasih
BalasHapusterima kasih kembali kak...
HapusJadi nambah pengetahuan, terimakasih postingannya mbak
BalasHapusBudaya sasak sangat beraneka ragam..terima kasih informasinya dan menambah pengetahuan saya pribadi
BalasHapusgood information
BalasHapus