Kamis, 21 Desember 2017

Peringatan Hari Kematian

Saya tinggal di daerah pedalaman yang lingkungannya itu masih tergolong kental dengan budayanya. Jika berbicara tentang budaya, maka masyarakatnya sangat sensitif dengan hal itu. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi jika melanggar aturan-aturan berdasarkan nilai-nilai budaya yang ada. Namun ada satu kebiasaan di desa saya yang akan saya jelaskan yaitu “Peringatan Hari Kematian Keluarga”.
Masyarakat di desa saya biasanya menyebutnya dengan istilah metangdase, nyatus, dan nyiu. Istilah ini diberikan berdasarkan sudah berapa hari si mayat meninggal dunia, dihitung mulai dari malam pertama mayat tersebut masuk ke dalam kubur. Dimana metangdase sama dengan 40 hari meninggal dunia, nyatus sama dengan 100 hari, dan nyiu sama dengan 1.000 hari. Cara hitungnya sedikit berbeda bukan berdasarkan waktu pagi, tetapi berdasarkan waktu malam. Cara memperingatinya yaitu dengan zikiran. Zikiran itu cukup diadakan sehari semalam, dilanjutkan dengan pada waktu subuh ziarah kubur. Pelaksanaannya tidak boleh terlalu cepat atau terlambat, karena jika tidak tepat atau sesuai harinya, masyarakat disana berpendapat bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpa keluarga si mayat di hari-hari berikutnya sampai hari nyatus atau nyiu itu tiba.
Oleh karena hal itu, timbul beberapa pendapat atau kontoversi terkait budaya ini, diantaranya:
ü  Dikalangan pemuda, khususnya bagi yang telah mengemban pendidikan di pondok pesantren. Banyak yang beranggapan bahwa apa yang dilakukan dan diyakini itu tak lain hanya keliru saja dan takutnya mengarah ke syirik, sebab mempercayakan nasib pada hal-hal yang seperti itu.
ü  Tak jarang juga dari mereka beranggapan bahwa peringatan seperti itu berlebihan, karena bayangkan jika keluarga si mayat tidak mempunyai uang untuk zikiran maka mereka harus meminjam dari orang lain, nah hal inilah yang mereka sebut sebagai berlebihan mengapa tidak peringatan itu dilakukan cukup dengan yasinan saja atau alfateha saja.
ü  Ada sebagian dari masyarakat disana juga tidak menyetujui adanya peringatan tersebut dengan alasan peringatan itu tidak mempunyai dasar filosofi yang jelas.
Menurut saya pribadi, peringatan tersebut akan bernilai baik jika kita membuka pikiran kita dan memandangnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Peringatan ini sebenarnya bertujuan untuk mengenang si mayat dan mendoakannya sekaligus mengingatkan bahwa kita akan mati juga. Sebab sifat manusia adalah cepat lupa jadi harus sering-sering diingatkan agar tidak serakah terhadap kehidupan dunia.
Diadakannya zikiran tak lain hanya sebagai sedekah oleh keluarga si mayat kepada orang lain, dengan harapan bahwa perbuatan ibadah itu akan dapat menjadi penerang di alam kubur bagi mayat tersebut. Mengapa saya mengatakan sedekah, karena orang-orang yang datang ke rumah keluarga si mayat tidak diwajibkan membawa apapun untuk keluarga. Dengan hadirnya mereka saja keluarga mayat tersebut sudah bersyukur berarti banyak orang yang akan mendoakan keluarganya yang telah meninggal.
Mengenai hal yang berlebihan sebenarnya jika kita melihat bahwa peringatan ini bias di kemas menjadi sangat sederhana, bahkan bias di adakan di masjid setelah orang-orang selesai shalat Isya berjamaah. Cukup dengan memberikan air gelas dan nasi bungkus. Jadi itu tergantung bagaimana kita dan kemampuan yang kita miliki.

43 komentar:

  1. semoga apa yang di share bermanfaat mbak yuuu :)

    BalasHapus
  2. Artikel yang bagus, akan tetapi masih banyak yang harus diperbaiki dari segi penulisan, kerapian, dan diksinya. sukses selalu!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih atas koreksi dan sarannya :)
      tetep kunjungi halaman yang lain ya....

      Hapus
  3. Keren👍👍
    Terimakasih unt ilmunya😊😊

    BalasHapus
  4. Sangat menarik, terima kasih.. ditunggu postingan berikutnya.. 😊

    BalasHapus
  5. menarik mabk yul..
    Tapi ada sedikit pertanyaan yang mengganjal..
    Adakah makanan yang wajib ada dalam pelaksanaan ritual atau adat roah ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terkait makanan tidak terlalu dikhususkan
      tergantung si penyelenggara, hanya saja kalo mampu minimal ada yang disembelih (daging)

      Hapus
  6. Tradisi yang sungguh menarik, apanp bentuk upaya kita dalam melestarikannya, lakukan yang terbaik agar generasi yang akan datangbjuga menikmati dampak positifnya.

    BalasHapus
  7. oow berarti berbeda daerah, beda juga caranya. kalok di daerah saya gk ada nyiu, yang ada itu nelung, mituq, nyiwaq, sama nyatus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kak, itulah budaya sasak. beda daerah beda tradisi

      Hapus
  8. wah, kalau di daerah sekitar saya yang ada hanya nyiwak, metangdase, sama nyatus saja. tidak ada nyiunya.

    terima kasih informasinya, mbak yul. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. walaupun berbeda kita tetap satu suku kok, teman
      suku sasak :)

      Hapus
  9. Menarik ,,lestarikan budaya sasak dgn menulis!!!

    BalasHapus
  10. Mohon Maaf sebelumnya... Saya kurang sependapat dengan penulis mengenai sudut pandang yg mengatakan bahwa, acara roah ini adalah sesuatu yg baik jika dilihat dari segi yg berbeda.. ��, karena ini adalah hal yg menyangkut kedalam agama,, Apapupun bentuk Amalan kita selama itu tidak ada tuntunan dari Nabi SAW, maka amalan kita akan tertolak,, walaupun hal tersebut baik di pandangan manusia... Mungkin lebih lengkapnya nanti bisa kita di diskusikan mbak Yul di acara reuni dgn teman - teman yg lain..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih,, mudahan"an dipermudah untuk reuni lagi
      terima kasih sudah menyempatkan berkunjung
      jangan lupa kunjungi lagi halaman yang lain ya...

      Hapus
  11. Pelaksanaan tradisi tersebut tidak boleh terlalu cepat atau terlambat, karena jika tidak tepat atau sesuai harinya, masyarakat di sana berpendapat bahwa akan ada hal buruk yang akan menimpa keluarga si mayat di hari-hari berikutnya sampai hari nyatus atau nyiu itu tiba.
    Apakah hal tersebut benar adanya? Apa filosofinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terkait benar adanya saya kurang tahu karena saya belum menemukan keterlambatan dan kecepatan pelaksanaan kegiatan tersebut.
      jadi PR sy untuk menggali lebih dalam lagi

      Hapus
  12. Artikelnya cukup bagus, karena apa yang di sajikan di artikelnya sangat rill seperti apa yang terjadi di masyarakat saat ini
    Good... Thanks atas ilmunya dek, semoga kedepannyan lebih baik lagi..����

    BalasHapus
  13. Yaa bisa juga kan, di anggap sebagai balas budi yg telah almarhum tersebut lakukan kepada sesama. Kan kita sesama manusia harus saling bermanfaat bagi orang lain, bukan di manfaat kan. Hahaha

    BalasHapus
  14. Brilliant!.
    Well, karena saya menekuni bidang Kebahasaan, saya hanya akan mengomentari dari sisi kebahasaannya saja

    Deskripsinya sudah bagus dan mumpuni, hanya saja sepertinya perlu dilihat lagi dan direvisi beberapa kata atau kalimat didalamnya serta gaya bahasanya akan lebih baik disesuaikan dengan genre yg dibuat... Karena ini artikel yg berupa deskripsi, akan lebih baik jika memang bentuknya formal, maka bahasa selanjutnya juga formal, dan sebaliknya. Jangan sampai ada satu kalimat yg formal tetapi kalimat yg lain informal...
    @menurut saya, Perlu ada revisi di beberapa kalimat

    Namun secara umumnya sudah bagus baik dari penggambaran dan yang lainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih... Terima kasih sarannya kak..
      sangat bermanfaat untuk tulisan saya selanjutnya :)

      Hapus
  15. Terima kasih atas tambahan ilmu nya😉

    BalasHapus
  16. dibaca dari judulnya saja sudah serem banget.. tapi informasinya bermanfaat sangat,, kereen abiss...

    BalasHapus
    Balasan
    1. he he.. terima kasih..
      biar kita semua ingat bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan yang namanya kematian.

      Hapus
  17. Jadi nambah pengetahuan, terimakasih postingannya mbak

    BalasHapus
  18. Budaya sasak sangat beraneka ragam..terima kasih informasinya dan menambah pengetahuan saya pribadi

    BalasHapus

Pengakuan Masyarakat Sasak

Pi agam Gumi Sasak adalah sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama masyakat Sasak untuk membangun, menyatukan, dan menegakkan kemba...